Menggapai Puncak Tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai

Travelling

Gunung Ciremai merupakan salah satu dari sekian banyak gunung di Jawa Barat, tapi yang jadi spesial ini adalah gunung dengan ketinggian nomor 1 di Jawa Barat loh. Berawal dari rencana sebelumnya yaitu ke gunung Lawu, namun karena satu dan lain hal dengan ide dari gue, gue sama Nufus nekat mendaki cuma berdua ke gunung dengan simaksi Rp 50.000 per orang tersebut.
Setelah perencanaan yang matang kami berdua berangkat pada Sabtu pagi, sial, karena persiapan gue yang agak berantakan waktu itu, dompet hilang entah dimana, ATM semua ada didompet, dengan membawa uang recehan sebesar 250.000 akhirnya dipaksakan berangkat. Untuk memperpendek waktu kami berangkat dari Patuguran, karena waktu itu sedang macet, jadi dari rumah ke Patuguran kami menggunakan mikrobus dan turun di Alfamart tempat gue kerja dulu sambil beli air mineral dan bekal yang belum dibeli.

Nunggu Bus
Nunggu bus

Sekitar jam 11.00 kami mulai menunggu bus jurusan Cirebon, sekitar 1 jam bus baru terlihat, ini efek dari kemacetan sih, biasanya 30 menit paling lama pasti ada bus yang lewat. Di perjalananpun kami masih menemui banyak titik-titik kemacetan karena pada hari itu kebetulan lagi banyak acara karnaval, padahal kami sengaja pilih akhir bulan Agustus biar gak rame, ternyata seminggu pasca hari kemerdekaan pun masih ramai.
Setelah perjalanan sekitar 6 jam, sore itu kami sudah sampai di Cirebon. Yap, itu terlalu lama dari waktu normal yang hanya 2 jam 40 menit jika menggunakan kendaraan pribadi dan 4 jam lah mungkin kalo kendaraan umum kalo gak macet. Karena macet inilah kita kesorean nyampe Cirebon, sampai di sini gak pikir lama kita rencanakan untuk langsung ke basecamp Ciremai dengan jasa Gocar, setelah istirahat dan jajan sebentar di Alfamart kami pun coba pesen gocar, dan 2 driver pertama menolak karena terlalu jauh dan katanya jalannya rusak hehehe. Gak nyerah, kita akhirnya dapat driver yang mau nganterin.


Driver pertama nolak, oke deh cari driver lagi

Dari Cirebon perjalanan ditempuh 2-3 jam menuju desa Argamukti. Di kantor desa inilah kami turun dari gocar setelah nyasar beberapa kali. Dengan tarif 180rb lebih kami sangat puas, karena perjalanannya memang jauh dengan banyak tikungan dan tanjakan tajam. Di balaidesa ini kami bertemu dengan Aa Ajat, beliau merupakan salah satu warga Apuy, dia rupanya driver pick up yang biasa bawa sayur ke pasar dan biasanya juga bawa rombongan pendaki. Nah kebetulan karena sudah malam dan perjalanan ke basecamp masih sekitar 4 km ke atas, kami akhirnya diajak ke rumah Aa Ajat buat numpang tidur. Kalopun kita mau ke basecamp di basecamp Ciremai via Apuy ini tidak ada tempat untuk tidur, dan maksimal waktu pendakian adalah jam 17.00 (kalo gak salah) di atas jam itu udah gak boleh ada lagi pendaki yang naik, alasannya gue gak tau juga sih yang jelas kita ikutin aja aturan yah.


Rumah Aa Ajat

Nah, di rumah Aa Ajat kami disambut ibunya Aa Ajat ini dan setelah ngobrol-ngobrol sedikit kami dipersilakan untuk tidur di salah satu kamar di rumah Aa Ajat. Kalo diliat ini kamar emang sering dipake persinggahan pendaki, keliatan dari coretan-coretan di dinding ala vandalisme pendaki alay hehehe. Pagi menunjukkan pukul 06.00 kami diantar Aa Ajat menuju basecamp sembari membawa bibit sayur dan ibu-ibu yang hendak ke Ladang.

Perjalanan yang sangat berkesan buat gue, karena udah lama banget mungkin sekitar 4 tahunan gak naik mobil pickup dibelakang hahaha. Nah setelah menurunkan ibu-ibu tadi dan bibit sayur perjalanan sudah dekat, sekitar 5 menit, basecamp sudah keliatan, tapi mesti agak muter dan nanjak lagi. Sekitar jam 06.30 an kami udah nyampe di basecamp. Di sini barulah si Aa menjelaskan tarif sewa pickup tadi yang ternyata sekitar 250.000 untuk pulang pergi dari rumah Aa Ajat ke basecamp, cukup mahal sih menurut gue, tapi katanya itu udah tarif standar, dan karena kami juga udah numpang tidur kita setuju aja kita udah janjian kalo nanti turunnya bakal ngontak Aa ajat, dan tidak lupa kita ngasih DP 100rb walau gak diminta sebagai tanda jadi.

Di basecamp kami berdua bersiap-siap, mandi, packing dan mengecek logistik, sampai akhirnya datang 3 pendaki dari Bekasi dengan mobil pickup juga tapi beda drivernya. Si Nufus gue suruh buat tanya-tanya barangkali turunnya kita bisa bareng biar tarifnya gak terlalu mahal hehehe. Tapi ternyata mereka bertiga besok turunnya di terminal Maja, beda dari terminal tujuan kita, akhirnya gak jadi.
Berhubung hari itu hari Minggu, gunung Ciremai sedang sepi-sepinya pendaki yang naik, kebanyakan sudah pada turun, kami pun merencanakan untuk naik bareng berlima. Alfian dan pacarnya sama Monic.
Setelah registrasi dan membayar simaksi kita kemudian sarapan terlebih dahulu di warung yang sudah ditentukan. Oh ya dari tarif simaksi 50.000 ini kita dapat kupon makan 1x dan sertifikat pendakian. Sarapan di basecamp hari itu entah kenapa terasa enak banget walau lauknya cuma telur dadar sama tahu 2 biji hahaha padahal kalo di rumah pasti bakal bosen atau gak nafsu makan.

Selesai makan kita kemudian istirahat sebentar lalu langsung menuju ke gerbang pendakian, di sini kami disuruh isi formulir yang isinya seputar identitas dan barang apa saja yang dibawa yang berpotensi menghasilkan sampah, kaya air mineral, mie instan, ikan kalengan dan lain-lain. Semuanya mesti dihitung jumlahnya dan ditulis untuk pengecekan pas turun. Di situ gue baru sadar kalo ternyata tracking pole gue rusak, gak bisa ditarik gara-gara pas pendakian sebelumnya di Prau lupa gak dicuci duh, tapi akhirnya tetep dipake juga walau agak susah. Sekitar jam 8.30, pendakian pun dimulai, jalan dari gerbang masih jalanan makadam yang masih sangat landai. Sekitar 1 jam kami sudah sampai di pos 1 Arban yang sangat luas dan terdapat shelter besar di pinggirnya. Kami berlima pun beristirahat sekedar melepas dahaga dan berfoto.

Sekitar 15 menit perjalanan kembali dilanjutkan, perjalanan dari pos 1 ke pos 2 mulai terasa tanjakannya dan waktu itu memang sedang musim kemarau sehingga debu bertebaran dimana-mana ketika tanah diinjak. Beruntung cuaca hari itu tidak terlalu panas, mendekati pos 2 kabut turun perlahan menemani perjalanan kami. Sampainya di pos 2 Tegal Pasang jam 11.40 kami kembali beristirahat dan berfoto.
Jam 12 lebih kami baru melanjutkan perjalanan, perjalanan mulai terasa berat buat, si Monic yang berada di depan gue mulai keliatan kelelahan, gue yang berada di belakang sebagai sweeper mesti sabar, perjalanan ini kita lebih banyak istirahat karena tanjakannya lumayan curam sampai ada beberapa titik yang perlu dipasang tali untuk mempermudah mendaki.

Kurang lebih 2 jam perjalanan dari pos 2, jam 2 siang kita sampai di pos 3 Tegal Masawa, di pos inilah baru terasa kehadiran manusia selain kami, cukup ramai orang yang mau turun beristirahat di sini, dan ada juga rombongan tim SAR yang sepertinya sedang diklat atau semacamnya di pos 3 ini. Hanya 10 menitan kami di sini kami lanjutkan perjalanan menuju pos 4.

Di tengah perjalanan kami sempat bertukar carrier, karena pacarnya si Alfian juga kelelahan. Gue bergantian sama Alfian bawa tas kecilnya Alfian. Perjalanan lebih sulit dengan banyak rintangan karena banyak pohon-pohon tumbang yang menghalangi jalan. Kabut semakin tebal dan gue sama Monic sering ketinggalan, sebetulnya gue masih cukup banyak tenaga buat ngikutin laju teman lainnya tapi gak mungkin kan gue ninggalin cewe di belakang, kita jalan santai aja, sambil sesekali bersahut-sahutan teriakan dengan teman di depan untuk menjaga komunikasi. Dalam pendakian komunikasi seperti ini penting untuk menjaga semua anggota agar tetap berada di jalan yang benar. Tepat jam 3.53 kami sudah sampai di pos 4 Tegal Jamuju.

Di pos 4 ini cukup luas dan cocok untuk membuat tenda, namun rencana kami dari awal adalah ngecampnya di pos 5. Karena hari semakin gelap jam 4.05 kami sudah mulai melanjutkan perjalanan dengan beberapa kali istirahat dan berfoto di perjalanan.
Gue sama Monic ketinggalan cukup jauh karena si Monic udah kecapean banget, Oh ya btw dia punya anemia gitu, jadi gue dari sekitar pos 3 emang udah jalan santai. Karena gue ngertiin kondisi dia kan. Mendekati pos 5 gue liat-liat sepatu basket si Monic copot bagian bawahnya, akhirnya dia minta gue buat motongin tuh bagian bawah sepatunya. Hehehe ini jangan ditiru ya, kalo mendaki gunung apalagi di musim kemarau sebaiknya gunakanlah sepatu outdoor walaupun minjem atau sewa, karena akan lebih memudahkan dalam pendakian tentunya.

Sekitar jam 5.30 kami akhirnya sampai di Pos 5, kita berdua tertinggal kurang lebih 10 menitan dari mereka bertiga. Tidak menunggu waktu lama gue sama Nufus langsung mendirikan tenda karena sudah mulai gelap dan udara sudah terasa dingin sekali. Tidak lama rombongan Bekasi juga mulai mendirikan tenda sekitar 10 meter dari tenda gue sama Nufus. Dan beruntung di pos 5 ini ada sekitar 4 rombongan pendaki lain juga yang ngecamp, jadi gak terlalu sepi mengingat dari basecamp sampai pos 5 ini kita gak pernah menjumpai satupun pendaki yang naik. Dari pos 5 ini puncak sudah terlihat walau masih setengah perjalanan lagi sih.
Tenda jadi, gue langsung masuk, make jaket, sleeping bag, kaos kaki, dan segala macem karena semakin malem suhu bakal makin dingin. Abis itu masak air buat bikin susu jahe dan makan roti buat menghangatkan badan. Karena kecapean setelah makan gue langsung mager, tiduran sambil nonton drama Thailand, sementara itu, Nufus ngumpul-ngumpul bersama pendaki lain dengan api unggun. Gue sebenernya berapa kali dipanggil, tapi kebiasaan dari awal mulai mendaki kalo udah masuk tenda, berasa mager banget, karena kecapean juga sih. Gue bangun sekitar jam 1 an, masih 3 jam dari jadwal bangun kita yang sebenarnya, seperti kebiasaan di rumah kalo udah bangun gak bakal bisa tidur lagi, akhirnya gue nonton drama thailand sampe akhirnya jam menunjukan pukul 3.40 an, si Nufus sudah bangun, kita langsung bikin mie instan lagi buat sarapan sementara si Nufus cuma makan sereal aja. Ketika sedang memasak, kami sempat dipanggil pendaki lain untuk summit, tapi karena masih agak lama, kita persilakan mereka untuk berangkat duluan.

Kita mempersiapkan barang bawaan yaitu makanan dan gadget serta jas hujan. Sekitar jam 4.20 setelah segala persiapan selesai, sebelum berdoa gue dikasih tau si Nufus kalo ternyata pendaki dari Bekasi yang bareng kita itu gak ikut summit, gue memaklumi banget sih mengingat kondisi fisiknya si cewe-cewe nya yang emang udah diforsir kemarin. Setelah berdoa bersama kita berdua pun mulai nanjak di tengah kegelapan bermodalkan head lamp dan senter. Oksigen yang menipis membuat kita ngos-ngosan, walau begitu kita jarang istirahat kali ini, hanya 1 menit 2 menit kita istirahat karena kita cuma bawa 1 carrier aja dan isinya pun cuma sedikit. Bergantian kita berdua membawa carrier sampai akhirnya kita berhasil menyusul pendaki yang naik sebelum kita. Sekitar jam 5.20 matahari sudah mulai terlihat, gue dan Nufus udah gak jalan bareng lagi sesekali gue tertinggal di belakang sesekali dia yang di belakang, di pos 6 Goa Wallet jam 5.30an gue sempet istirahat sebentar, memandang mentari pagi yang bagus banget deh pokoknya. Sekitar 5 menit istirahat, lanjut lagi ke puncak, masih sekitar 30 menit, dan tepat jam 6.10 gue udah sampe di puncak, sekitar 7 menit kemudian Nufus pun menyusul, gue sempet nyari-nyari sinyal kali aja bisa live di instagram, karena sebelumnya di Gunung Slamet kita sempet dapet sinyal di pos 9 hahaha. Tapi ternyata di sini sinyal hanya muncul sesekali. Gak pikir lama kita berdua kemudian foto-foto bergantian, tidak lupa foto dengan memegang plang gunung yang mesti gantian sama pendaki lainnya.

Si Nufus yang biasanya lebih cepet minta turun kali ini agak lebih lama menikmati waktu di puncak, mengingat ini adalah pendakian terakhir dia sebelum 2 tahun ke depan bakal sibuk kuliah karena dia lanjutin studinya ambil S1.

Setelah puas menikmati pemandangan kawah dan berkeliling di atap Jawa Barat itu kita memutuskan untuk turun sekitar pukul 7.45, hampir 2 jam kita di puncak, ini kayaknya waktu terlama kita berada di puncak gunung. Di perjalanan kita masih bergantian bawa carriernya, perjalanan turun lebih cepat karena bisa sedikit lari dan ringan banget langkahnya. Di perjalanan gue sempet liat tanaman semacam murbei atau stroberi hutan, gue dan Nufus sempat makan beberapa, gue sampe sering ketinggalan karena sering berhenti buat metik buah ini. Rasanya manis agak asam, campur sepat mungkin karena kecampur debu-debu yang bertebaran di jalur pendakian. Ya, kapan lagi kan bisa makan buah yang susah ditemuin di dataran rendah dan ini gratis tentunya hehehe.

Sekitar jam 9.30 gue udah nyampe tempat ngecamp setelah sekitar 10 menit Nufus nyampe. Yup kali ini gue yang di belakang karena kesibukan makan murbei tadi hehehe. Sampe tempat ngecamp para ladies sedang pada masak sop. Sementara gue karena udah laper makan sisa bekal dan snack. Gak pengin berlama-lama istirahat, gue minta Nufus untuk segera bongkar camp dan turun, namun karena masih agak lama akhirnya gue putusin untuk turun duluan setelah bongkar tenda dan beres-beres bareng Nufus. Gue turun sendirian dengan membawa sampah, sementara Nufus gue tinggal karena nanti turun bareng rombongan pendaki Bekasi tadi.

Belajar dari pengalaman 3 kali pendakian sebelumnya. Kaki gue entah kenapa kalo turun gunung, gak boleh istirahat kelamaan, karena biasanya kalo istirahat kelamaan pegel-pegel di kaki dan pundak mulai terasa. Makanya dengan berat hati gue turun duluan walau sendirian dengan kaki yang sudah diberi koyo dan minyak kayu putih biar gak keram.

Gue akhirnya turun dengan beberapa kali bertemu pendaki lain. Tapi tetep aja lebih sering gue sendirian, sampe pos 3 gue ketemu sama gerombolan kera di atas pepohonan, dan waktu itu kebetulan cuma gue yang lewat, rombongan pendaki di depan udah gak keliatan, dengan agak lari kecil gue akhirnya berhasil ngelewatin kerumunan kera tadi. Sampai di pos 2 tiba-tiba terdengar suara notifikasi whatsapp dan sh*pee, senengnya bukan main masih di pos 2 udah dapet sinyal, sempet bikin story instagram, tapi beberapa menit lanjut turun, sinyal kembali hilang hahaha. Lewat pos 1 gue gak mampir karena pengen cepet-cepet nyampe, karena udah laper juga hahaha. Terus berjalan sampai di gerbang sekitar jam 12, gue laporan sama petugasnya kalo tim pendakian gue yang lain masih di atas, gue langsung dipersilakan buat lewat tanpa pemeriksaan.

Gue menuju ke warung 5 tempat kita kemaren sarapan dengan kupon. Istirahat, pesen minum dan makan lalu mandi, dan sambil nungguin temen-temen gue ngecek website gue dan melakukan hal-hal kerjaan lain. Sekitar 2 jam kemudian Nufus akhirnya sampai, dan pendaki bekasi menyusul. Mereka lalu mandi, makan, sharing foto, ngobrol-ngobrol sampe jam 4.30 mobil jemputan datang, kita lalu ditelpon Aa Ajat disuruh ikut mereka turun sampe balai desa.

Sampe di balai desa kita berdua turun dan berpamitan sama pendaki bekasi yang lanjut ke terminal Maja, sementara kita berdua akan menginap dulu di rumah Aa Ajat karena hari sudah malam dan bus Cirebon Purwokerto kayanya udah habis karena dari Argamukti ke Cirebon sekitar 2 jam. Setelah negosiasi harga akhirnya kita dapat harga 150.000 untuk transport dari Argamukti ke terminal Sigaluh. Berhubung sudah mulai malam kami akhirnya ke rumah Aa Ajat dengan dianterin pake pickupnya, jaraknya dari balaidesa cuma 500 meteran sih sebenernya hehehe, tapi barang bawaanya berat sih.

Sampe di rumah Aa Ajat kita langsung tiduran, setelah ngecas HP dan lain-lain, sekitar jam 8 malem tidur, dan keesokan paginya sekitar jam 5.30 kita diantar ke terminal Sigaluh, teriminal ini masih sekitar 20 KM dari terminal Cirebon. Dari terminal Sigaluh menggunakan ELF dengan tarif Rp 15.000 saja. Di terminal Cirebon kami melipir ke rumah makan untuk sarapan nasi goreng. Selesai sarapan kita istirahat sambil menunggu bus pertama beroperasi yaitu pukul 10.00 atau sekitar 30 menit lagi. Bus yang kami tunggu sudah siap berangkat dan akhirnya kita sampai dengan selamat di kampung halaman, Pekuncen, Purwokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published.